SINGKONG GAJAH
Sebagai bentuk perhatian terhadap perekonomian para
petani di Kaltim, Borneo Environmental Community (BEC) membudidayakan
singkong gajah. Tanaman singkong ini memiliki ukuran lebih besar
dibandingkan singkong pada umumnya, dengan diameter batang 8 cm. Untuk
masa tanam 10 bulan, satu pokok bisa menghasilkan singkong gajah 40 kg.
Prof Dr Ristono MS, peneliti dari Universitas Mulawarman (Unmul)
menemukan tanaman ini pada 1992. “Sebetulnya tanaman ini sudah lama
tumbuh di Kaltim. Saya menemukannya di beberapa tempat, seperti Manggar
(Balikpapan) dan Marangkayu (Kukar). Tapi varietas singkong gajah ini
hanya dijumpai di wilayah Kaltim,” tutur Ristono.
Cara tanam singkong ini sangat mudah, dengan sistem stek bisa tumbuh.
Batang singkong dipotong lalu ditancapkan dalam tanah yang gembur.
Hasilnya pun berbeda dengan singkong biasa yang ditanam menggunakan
proses okulasi atau dicangkok. “Dalam jangka sembilan bulan, kalau
singkong biasa hasil panennya 2-3 kg dalam satu pokok, maka dengan
singkong gajah bisa mencapai 10-20 kg,” jelasnya.
Bersama BEC, Ristono ingin membudidayakan singkong gajah ini di
Samarinda. Pilot project- nya di Barambai, Sempaja Utara dengan lahan
seluas 2 hektare (ha). Minggu depan bakal dimulai penanaman bibit.
Keunggulan tanaman ini bukan hanya perawatannya yang mudah, namun juga
kebal terhadap hama.
“Rasanya juga lebih gurih, seperti ada menteganya. Teksturnya juga
sangat lunak tidak seperti singkong biasa yang keras,” tambahnya.
Singkong ini tak hanya bisa diolah menjadi tepung tapioka tapi juga
dapat menghasilkan produk bio-etanol sebagai bahan bakar kendaraan.
Untuk menghasilkan bahan bakar, singkong ini mesti diolah melalui proses
distilasi (penyulingan).
Hasil panen singkong gajah bisa mencapai 100 ton/ha, sedangkan
singkong biasa 40 ton/ha. BEC Kaltim mendatangkan satu truk bibit
singkong gajah ke Samarinda, Selasa (22/7). Bibit ini didatangkan dari
tempat pembibitan utama di perbatasan Balikpapan-Kukar sebanyak 30.000
bibit. Bibit ini akan ditanam di kawasan Barambai, Sempaja. Jadi total
bibit yang sudah diserahkan kepada BEC Samarinda 50.000 bibit.
Lewat budidaya singkong gajah ini ke depan dapat tercipta lapangan
usaha, seperti mendirikan UKM, pabrik tapioka. Bahkan, singkong gajah
bisa menjadi komoditi ekspor setelah diolah menjadi bio-etanol.
“Saat panen raya Desember nanti, kami akan menggelar sosialisasi
singkong gajah ini dalam bentuk getuk lindri sepanjang 2008 meter.
Rencananya, aksi ini akan dicatat dalam museum rekor Indonesia (MURI).
Sampelnya diambil dari daerah penghasil tanaman tersebut di Kaltim,”
ucap Ristono.
RISALAH DAN KARAKTERISTIK SINGKONG GAJAH
Penemuan Singkong Gajah dimulai dari tahun 2006 dan mulai
dikembangkan pada tahun 2008, koleksi berbagai jenis Singkong Unggul
yang dimiliki oleh BEC diteliti kembali oleh Prof. Ristono khususnya
hasil inventarisasi dari berat umbi basah yang dihasilkan pada satu
batang cabutan pohonnya di atas 20 kg diperoleh data berat pada satu
jenis varietas yang “lokal” yaitu, 21 kg, 22 kg, 25 kg, 32 kg, 42 kg
dan tertinggi adalah 46 kg. Pada akhirnya dilakukan kesepakatan untuk
memberikan nama varietas tersebut. Berbagai usulan muncul dengan hasil
akhir ada tiga nama yang perlu dipertimbangkan yaitu: Genjah, Lembusana,
dan Gajah. Atas pertimbangan yang mendalam untuk berbagai kepentingan
maka diputuskan nama varietas Singkong Unggul yang dikembangkan oleh BEC
tersebut adalah SINGKONG GAJAH, dimana keunggulan varietas ini terletak
pada: (1) berat umbi, (2) kemudahan penanaman, (3) bisa langsung
dikonsumsi sebagai bahan makanan pengganti beras dengan rasa ketan, dan
(4) umur panen 6 – 10 bulan.
Karakteristik Singkong Gajah
Sebagai Lembaga Swadaya Masyarakat BEC (Borneo Environmental Community) telah terdaftar di Badan Kesatuan Bangsa & Politik Provinsi Kalimantan Timur dengan No.220/562/orm/2009, Tanggal 08 April 2009 yang berorientasi pada Lingkungan Hidup.
BEC telah menemukan jenis Singkong di Kalimantan Timur yang diberi nama “SINGKONG GAJAH” sebagai varietas ”Asli” Kalimantan Timur yang ditemukan oleh Prof. Dr. Ristono, MS (Ketua Umum BEC) dan dipublikasikan melalui Koran Lokal dan Internet sejak tanggal 08 juli 2008. Sosialisasi dan pengembangan dimulai tanggal 01 Juni 2009 dengan acara “Panen Raya dan Bazar Singkong Gajah” dilaksanakan di Desa Bukit Pariaman (Separi 1) Kec. Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur.
Dalam rangka penelitian dan pengkajian yang telah dilakukan LSM BEC
dengan berbagai Media Tanam, Input Teknologi, dan Jenis Tanah yang
berbeda menghasilkan variasi umbi basah cabutan per stek pada umur 9
bulan dengan berat 7 kg – 42 kg. Dari berbagai sampel cabutan Singkong
Gajah dengan umur antara 4 – 9 bulan memiliki rasa yang enak dan gurih
dengan tekstur empuk bahkan ada nuansa rasa ketan. Berbagai jenis olahan
Singkong basah menjadi makanan diperoleh kualitas yang bagus antara
lain berupa Keripik, Gethuk, Tape dan Bahan sayur pengganti kentang, dan
lainnya yang memiliki potensi Ekonomi yang cukup tinggi.
Umbi umur 9 – 12 bulan mempunyai kadar pati yang tinggi sehingga
berpotensial sebagai bahan Chip Gaplek, Tepung Tapioka, Tepung Mocal
(Pengganti Gandum) dan Bioethanol. Dengan demikian Singkong Gajah akan
memiliki potensi strategis secara Nasional sebagai Bahan Pangan dan
Bahan Bakar Nabati (Energi).
Secara fisik Singkong Gajah memiliki sistem perakaran yang kuat
sehingga memungkinkan bisa menyerap (menahan) air dan sangat berguna
bagi keperluan irigasi dan pengendalian banjir. Sedangkan pertumbuhan
batang, cabang dan daun mencapai tinggi 5 meter. Tumbuhan ini mempunyai
potensi tinggi dalam penyerapan CO2, dengan demikian keberadaan Singkong Gajah besar peranannya bagi pengendalian ekosistem.
Kandungan Sianida yang relatif rendah pada Singkong Gajah terlihat
pada daun yang bisa langsung dimakan oleh ternak (ayam, kambing, dan
sapi) tanpa menimbulkan pengaruh negatif pada ternak tersebut. Hal itu
juga terlihat pada umbinya, karakteristik semacam ini mempunyai nilai
lebih baik dibandingkan dengan varietas singkong lainnya walaupun
mempunyai produktivitas yang tinggi namun tidak dapat langsung dimakan
oleh ternak maupun manusia, disebabkan tingkat Kandungan Sianida yang
tinggi membuat jenis singkong variates yang lain beracun dan apabila
dalam pengolahannya tidak menggunakan metode yang benar akan
membahayakan mahluk hidup dan merusak lingkungan.
Potensi kandungan Tepung pada Singkong Gajah akan mencapai titik
maksimum pada umur tanaman antara 9 – 12 bulan, dengan demikian apabila
Industri Tepung Tapioka mengunakan bahan baku dari Singkong Gajah
sebaiknya pada umur panen tersebut.
Sehubungan dengan kondisi iklim di Kalimantan Timur yang sulit
dibedakan antara musim penghujan dan kemarau, maka penanaman Singkong
Gajah maupun panen di Kalimantan Timur sangat diuntungkan Dengan
demikian penyediaan bahan baku untuk industri Tepung Tapioka dapat
dilakukan setiap saat dengan rotasi tahunan tanpa memandang hari maupun
bulan dengan luasan areal yang besar tersedia. Perlu diwaspadai adanya
siklus musim kering sepuluh tahunan sekali di mana bahaya kekurangan air
bisa muncul, maka di dalam metode penanaman Singkong Gajah dalam skala
luas harus ada penyediaan tandon air yang difasilitasi dengan mesin
pompa air. Pemanfaatan air dan mesin ini sangat diperlukan khususnya
pada waktu panen umbi.
Varietas Singkong Gajah ini sudah memperoleh dukungan dari INSTANSI
PEMERINTAH yang terkait dan GUBERNUR Kalimantan Timur maupun BANK
KALTIM.
ANALISA BUDIDAYA SINGKONG GAJAH
Menanam singkong gajah sebenarnya sangat
menguntungkan. Asalkan pemasarannya lancar. Diasumsikan hasilnya
rata-rata 10 kg/batang dan harga rp 1000/kg. Di pasar-pasar kota
Samarinda harga rp 2000/kg. Hasil pemasukan disini termasuk penjualan
bibit singkong gajah yang dipotong-potong sepanjang 20 cm. Disini
diasumsikan lahan milik sendiri dan dikerjakan sendiri oleh petani.
berikut adalah ilustrasinya:

Sumber: http://singkonggajah.wordpress.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar